Kuliah adalah kegiatan belajar-mengajar di jenjang pendidikan
tinggi selepas bangku sekolah menengah atas. Bagi sebagian anak muda yang tak puas hanya dengan menjadi generasi putih abu-abu, kuliah
seakan sudah jadi ambisi. Terlebih bagi mereka yang melihat jenjang pendidikan tinggi
itu sebagai pengantar bagi tercapainya cita-cita mereka. Tak terkecuali bagi santri.
Bahkan motivasi dan hasrat untuk merasakan bagaimana rasanya suasana menuntut ilmu
di luar pesantren, bagaikan sebuah energi lain yang membuat mereka tetap bersemangat.
Namun demikian, selain kewajiban menuntut ilmu saat kuliah, sebenarnya
ada sebuah kewajiban lain bagi santri yang rentan memudar saat mereka menikmati
masa-masa kuliah tersebut. Apa itu? Mengabdi. Ya, mengabdi. Kegiatan inilah sesungguhnya
yang akan bermanfaat bagi mereka agar kuliah tidak hanya sekedar menjadi
aktivitas prestise berisi main-main dan jalan-jalan. Lantas, bagaimana
sebenarnya kuliah yang baik bagi para santri itu?
Apakah para santri yang ingin melanjutkan kuliah sudah menata niatnya
dengan benar? Apakah mereka akan sanggup
bertanggung jawab dengan ambisi mereka
tersebut? Tulisan ini akan memberikan sedikit gambaran terkait apakah kuliah itu benar-benar
penting bagi para santri dibandingkan
mengabdi dan menimba ilmu kepada kyai?
Melihat keinginan dari para siswa yang akan lulus tahun ini,
terutama bagi para santri Al-Imdad, yang sangat berambisi untuk kuliah, saya
punya beberapa pertanyaan. Sebenarnya apa yang mereka cari ketika kuliah
nantinya? Apakah ilmu, atau sekedar merubah status dari yang tadinya santri
menjadi mahasiswa? Lalu apa sih tujuan kuliah itu sendiri?
Kuliah tentulah terkait erat dengan sebuah status baru sebagai mahasiswa. Dan mahasiswa sebagai pencari
ilmu, dituntut untuk mampu mengabdi
kepada masyarakat sebagai jalan dalam
mengaplikasikan ilmunya. Inilah hakikat kuliah yang sebenarnya. Perlu disadari
pula, tujuan utama kuliah bukanlah pekerjaan, atau mencari gelar bergengsi. Kuliah
itu not just passing through, but learning. Karena kuliah tak
sesedarhana mencari hasil tanpa menikmati proses. Karenanya, pada posisi inilah
mahasiswa dituntut untuk bisa lebih aktif dalam mengamalkan ilmunya. Karena, di
dalam dunia sebenarnya –kembali ke masyarakat– mahasiswa adalah motor yang diharapkan
mampu berperan aktif menghidupkan kegiatan masyarakatnya, di mana pun ia
berada. Inilah yang kerap disampaikan oleh mereka
yang telah lulus dari kuliah dan sukses dalam kehidupannya.
Ironisnya, saat ini, anggapan seperti itu perlahan mulai hilang. Di zaman sekarang ini, banyak
dari mahasiswa yang membuang kesempatan meraih ilmu pengetahuan yang sebenarnya
bertebaran ketika mereka kuliah. Dengan dalih mencari pengalaman baru, mereka
justru tergiur melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak menunjang kegiatan kuliah
mereka. Umum terjadi di masa kini, banyak mahasiswa yang memilih menghabiskan
waktu luang di kos-kosan atau di rumah dengan hanya bermain game, bermain
gitar, nonton film, berebut panggung di media sosial, ketimbang menyambangi
perpustakaan atau toko-toko buku. Libur kuliah menjadi saat bagi mereka sowan
ke mall-mall untuk membeli barang yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan
mereka, atau sekadar bersenang-senang cuci mata ketimbang dibandingkan menambah
wawasan dan pengetahuan dengan berdiskusi dengan sesama mahasiswa,
berkonsultasi dengan dosen, atau menghadiri seminar.
Apa yang
salah? Apakah para mahasiswa tersebut lupa dengan pentingnya niat? Tidak juga. Tak sedikit mahasiswa yang mempersiapkan kuliah
dengan niat yang sungguh-sungguh. Tapi, entah mengapa, niat kuat itu bisa saja terkikis sebab godaaan bagi mahasiswa jauh lebih besar dibandingkan ketika kita masih duduk di bangku MA atau SMA. Sehingga tak jarang kemudian
mahasiswa-mahasiswa sedemikian hanya datang dan duduk
di kelas ketika dosen masuk, mengerjakan tugas, lalu pulang. Istilahnya “kupu-kupu” alias kuliah-pulang,
kuliah-pulang. Inilah salah satu dari sekian penyebab mengapa banyak
sekali sarjana yang hanya menjadi pengangguran setelah menyelesaikan kuliahnya.
Satu hal lagi, kuliah akan menjadi kehilangan makna bagi para
santri jika mereka melupakan kegiatan ngaji yang selama ini menjadi
santapan rutin mereka di pondok. Bahkan ada juga yang saat nyantri mampu
menjaga akhlak yang baik, namun atas dalih pergaulan mengalami degradasi akhlak
akibat kurangnya pendalaman ilmu agama yang didapat saat mengaji. Karenanya, sebagai
santri yang cukup beruntung menjadi mahasiswa, sempatkanlah waktu untuk
mengaji di samping kesibukan-kesibukan ketika kuliah. Karena, bisa jadi, berkah
ilmu akan kita dapatkan ketika mengaji.
Nabi SAW
bersabda, “Sesungguhnya
semua amal itu tergantung pada
niatnya.” Dan dalam sebuah kaidah fiqh disebutkan bahwa, “Semua amal tergantung pada tujuan/maksudnya.” Dari hadits Nabi dan kaidah fiqh
tersebut dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya
kuliah itu tergantung pada niatnya ataupun tujuannya. Jika
niatnya baik, maka proses dan hasilnya juga insya Allah akan
baik. Namun sebaliknya, kalau
niatnya saja sudah tidak baik, maka tentu saja, kuliah itu akan diiringi dengan
hal-hal yang tidak baik yang ujung-ujungnya akan mendatangkan hasil yang tidak baik pula. Semoga kita terhindar dari yang
sedemikian.
العلم بلا عمل
كالشجر بلا ثمر
“Ilmu tanpa
amal layaknya pohon tanpa buah.”
Bersandar
pada mahfuzhot di atas, dapat kita pahami bahwa ilmu
berbanding lurus dengan aplikasi alias pengamalannya. Dan bagi para santri, pengamalan ilmu itu bisa diukur melalui proses mengabdi. Dengan mengabdi, ilmu
yang kita dapatkan di pesantren bisa diejawantahkan kepada
masyarakat pesantren itu sendiri sebagai batu loncatan terhadap pengabdian
pada masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Dengan mengabdi, santri tentu
akan semakin untuk lebih intensif
lagi dalam
menimba ilmu, dan terutama berkah
dari sang kyai.
Pada akhirnya,
seperti kata orang bijak, semua adalah pilihan. Semua ada
plus-minusnya sendiri-sendiri. Dengan kata lain, semua kembali ke diri kita sebagai individu yang dipasrahi
tanggung-jawab sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka, pilihlah jalan yang sesuai dengan hati nurani. Semoga ilmu yang kita peroleh,
baik itu saat mengaji sebagai santri maupun saat mengabdi sebagai mahasiswa
(yang tetap menjadi santri), menjadi ilmu yang benar-benar akan bermanfaat
selama-lamanya. Amin.
Ananta Prayoga Hutama Syam, Alumni MA Unggulan Al-Imdad Bantul dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, sekarang Mahasiswa UIN Maliki Malang dan menetap di Ibn Khaldun Dorm Ma'had Sunan Ampel Al-Ali Uin Maliki Malang. Satu dari beberapa santri alumni #AmazingAlimdad yang menerima Program PBSB Kemenag RI 2016.
