Jika berbicara tentang puasa, yang pertama kali muncul di benak kita adalah menahan diri dari makan dan minum. Namun,
makna dari puasa itu sendiri selain sebagai rukun Islam yang ketiga, puasa juga
merupakan salah satu media bagi tiap muslim untuk menata hati, meningkatkan
keimanan dan mengendalikan hawa nafsu.
Bulan Ramadlan merupakan bulan yang
mulia, di dalamnya umat Islam diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh. Dari
urutan kedua belas bulan, Ramadlan adalah bulan yang paling dinanti-nantikan.
Allah sendiri menjanjikan pahala yang sangat melimpah dari awal hingga akhir Ramadlan.
Di dalam Surat Al-Baqoroh
ayat 183, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Imam Nawawi dalam kitabnya, Riyadl
as-Sholihin, menyebutkan bahwasanya dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW
bersabda, “Ketika bulan Ramadlan datang, dibuka pintu-pintu surga, ditutup
pintu-pintu neraka, dan syetan-syetan dibelenggu” (Mutafaqun ‘Alaih).
Di kalangan pondok pesantren, terutama
pondok salafi, Ramadlan merupakan momen yang sayang untuk dilewatkan. Momen ini
biasanya diisi dengan berbagai macam pengajian, mulai dari pagi hingga malam.
Kitab yang dikaji pun bermacam-macam, mulai dari kitab yang tipis sampai kitab
yang tebal. Mulai dari akhlaq sampai tasawuf. Mulai
dari kitab yang masyhur seperti Ihya
Ulum ad-Din atau Tafsir Jalalayn sampai pada kitab yang membahas
persoalan kemesraan rumahtangga yang kerap dianggap “syur” semisal Qurrot
al-‘Uyun atau ‘Uqud al-Lujjayn. Tradisi pengajian ini biasa disebut dengan istilah “ngaji pasanan”.
Pengajian yang dilaksanakan di Bulan Suci Ramadlan.
Sebagai orang Islam yang mengaku
sebagai umat Nabi Muhammad SAW, hendaklah kita tidak menyia-nyiakan datangnya
bulan Ramadlan. Seyogianya kita isi bulan yang penuh berkah ini dengan kegiatan-kegiatan
yang bermanfaat, seperti: mengikuti pengajian kitab, memperbanyak tadarus, mengamalkan
shadaqoh dan melakukan amalan-amalan sunnah lainnya.
Bagaimana dengan yang memiliki
keterbatasan fisik seperti gampang capek dan mudah tidur? Jangan khawatir, jika
niyat sudah tertata, insya Allah akan ada saja jalan membuat cita menjadi
nyata. Dengan menguasai ilmunya, semua bisa bernilai ibadah. Dan dalam sebuah
riwayat dari Harits bin Abu Usanah dari Sa’id al-Khudri RA dari Nabi SAW.
bersabda: “Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas
umatku.” (Kitab Tanqihul Qaul).
Bahkan tidurnya orang yang puasa –dalam arti
berpuasa yang hanya mengharapkan ridla Allah– maka tidur sedemikian bisa bernilai
ibadah lho. So, ayo kepalkan tangan, ‘azhamkan niyat untuk menggapai
berkah Ramadlan tahun ini. Semoga kita dimudahkan. Amin.
Evania Maula Alfarika, Alumni MA Unggulan Al-Imdad Bantul dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, sekarang Mahasiswi UIN Sunan Gunungdjati Bandung dan menetap di Pondok Pesantren Al Wafa Cibiru Hilir Bandung. Satu dari beberapa santri alumni #AmazingAlimdad yang menerima Program PBSB Kemenag RI 2016.
