Langsung ke konten utama

Manaqib Almaghfurlah KH. Humam Bajuri Bantul

Baris depan dari kiri ke kanan: dr. KH. Atthobari Humam, MPH, KH. Mulyanto, Dr. KH. Habib Abdus Syakur, M.Ag, KH. Ahmad Murod, S.Ag, K. Agung Prastawa, S.IP, dan Nyai Hj. Aisyah Humam
 
Bantul, 5 Oktober 2018
Dalam rangka Haflah Khotmil Qur'an dan Haul ke-23 Almaghfurlah KH. Humam Bajuri,  Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul menyelenggarakan beberapa rangkaian acara. Salah satunya adalah "Maulid Akbar dan Manaqib Almaghfurlah KH. Humam Bajuri".
Majelis Maulid Akbar dan Manaqib Almaghfurlah KH. Humam Bajuri ini diselenggarakan pada Kamis, 4 Oktober 2018, tepat selepas sholat Isya'. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh santri Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul ini juga dihadiri oleh dzuriyyah Almaghfurlah KH. Humam Bajuri dan jajaran kepengurusan Yayasan Pondok Pesantren Al-Imdad.
Dalam sambutannya, dr. KH. Atthobari Humam, MPH, selaku Ketua Yayasan, berpesan kepada santri-santri Al-Imdad untuk terus giat ngaji dan belajar.  Karena, masa depan bangsa ada di tangan mereka sebagai generasi muda. Selain itu, beliau juga berharap agar para santri bisa mengambil hikmah dan suri tauladan dari apa yang akan disampaikan oleh pembicara, yaitu KH. Mulyanto.
Panitia sengaja meminta KH Mulyanto untuk menyampaikan perjalanan singkat perjuangan Almaghfurlah KH Humam Bajuri karena beliau merupakan alumni yang turut menjadi menjadi saksi perjuangan Almaghfurlah KH. Humam Bajuri di masa-masa awal mendirikan Pondok Pesantren Al-Imdad.
Dalam penyampaian manaqib Almaghfurlah KH. Humam Bajuri, KH. Mulyanto bernostalgia dengan menceritakan bagaimana proses belajar-mengajar kala itu. "Zaman dahulu penerangan tidak seperti saat ini, dulu kita ngaji ya penerangannya mengunakan sentir (lentera -red)," tutur beliau sebagai pendahuluan.
Ketika pertama kali masuk di Pondok Pesantren Al-Imdad, KH. Mulyanto sama sekali belum bisa membaca dan memaknai kitab kuning. Namun, berkat kejelian dan keikhlasan Almagfurlah KH. Humam Bajuri yang dengan istiqomah terus mengajar dan mendidiknya, KH. Mulyanto mampu mengkhatamkan beberapa kitab kuning terkemuka.
KH. Mulyanto juga menggambarkan sekilas kondisi di masa-masa awal itu di mana keadaan masih amat sangat serba terbatas. Namun, keteguhan hati Almaghfurlah KH. Humam Bajuri mampu menginspirasi para santri untuk mendalami kehidupan di pesantren dengan segenap dinamikanya. Alhasil,meskipun dengan keadaan yang masih sulit, KH. Mulyanto bisa merasakan manfaat dari pembelajaran selama mengikuti arahan-arahan Almaghfurlah KH. Humam Bajuri.
KH. Mulyanto juga menceritakan bahwa dalam kurun waktu antara tahun 1988-1989, Almaghfurlah KH. Humam Bajuri mendapatkan amanah dari warga Nahdlatul Ulama Kab. Bantul untuk menjadi Rois Suriah PCNU Kabupaten Bantul. Amanah tersebut diterima dengan berat oleh Almaghfurlah KH. Humam Bajuri sebagai keputusan dari Konferensi PCNU Kabupaten Bantul yang diselenggarakan di kediaman Almaghfurlah KH. Mabarun di Bantul Kota.
Sebagai penutup KH. Mulyanto turut berpesan kepada para santri PP Al-Imdad agara terus belajar semaksimal mungkin dan tidak menuntut ilmu setengah-setengah. Kesungguhan dalam belajar adalah kunci dalam menyongsong kesuksesan di masa yang akan datang. Terlebih dengan keadaan masa kini yang jauh lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya.
"Saya berpesan kepada santriwan santriwati PP Al-Imdad agar jangan menuntut ilmu setengah-setengah. Khatamkan qur'an kalian, khatamkan kitab kalian, dan selesaikan pelajaran-pelajaran yang lain," pungkas beliau.


Muhammad Irfan Faziri, Alumni MA Unggulan Al-Imdad Bantul dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, sekarang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menetap di LSQ Ar-Rohmah Bantul. Satu dari beberapa santri alumni #AmazingAlimdad yang menerima Program PBSB Kemenag RI 2015.

Postingan populer dari blog ini

Tafsir jalalain (QS. Al an'am ayat 83-84)

Dalam surah Al an'am ayat 83, Allah menunjukkan segala sesuatunya kepada Nabi Ibrahim, hujjah Nabi Ibrahim itu  menunjukkan bahwa Allah itu maha esa. Nabi Ibrahim juga di berikan hujjah untuk membela kaumnya. Nabi Muhammad Saw tidak mungkin berbicara dengan hawa nafsu nya, melainkan apa yang di ucapkan nya merupakan Wahyu dari Allah SWT.  Allah SWT juga mengangkat derajat orang yang berilmu dan hikmah, untuk itu orang yang sedang belajar/ mencari ilmu ketika orang tersebut meninggal dunia, ia termasuk orang yang mati syahid, Dalam Alquran surah al-Mujadilah ayat 11, Allah SWT berfirman:   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ Ya ayyuhaladzina amanu idza qila lakum tafassahu fil-majalisi fafsahu yafsahillahu lakum wa idza qila...

BIMBINGAN USAHA SEBAGAI TINDAK LANJUT BANTUAN USAHA DARI BANK INDONESIA UNTUK PONDOK PESANTREN AL IMDAD

Kamis lalu (27/8) asosiasi keuangan mikro nasional, Microfin Indonesia, mendatangi Pondok Pesantren Al Imdad guna melakukan pembinaan Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP). Hal ini sebagai tindak lanjut atas bantuan usaha yang diberikan oleh Bank Indonesia untuk beberapa pesantren di Indonesia. Pondok Pesantren Al Imdad menjadi salah satu yang dipilih oleh BI untuk menerima bantuan guna mengelola UMKM milik pesantren yang memadahi untuk membantu perkembangan perekonomian di pesantren. Sebagai pembimbing dan konsultan, Microfin Indonesia memberikan beberapa arahan untuk mengelola segala macam UMKM, khususnya dalam hal administrasi dan keuangan. Di Pondok Pesantren Al Imdad terdapat bermacam-macam unit usaha. Mulai dari pertanian, pengelolaan sampah, air minum kemasan, hingga koperasi. Semua unit usaha ini dipercayakan satu persatu kepada para putra kiyai untuk mengelolanya. Maka dari itu, untuk mencetak tenaga dan pengelola yang profesional, Microfin Indonesia cabang DIY me...

Antara Kuliah, Mengaji dan Mengabdi

Kuliah adalah kegiatan belajar-mengajar di jenjang pendidikan tinggi selepas bangku sekolah menengah atas. Bagi sebagian anak muda yang tak puas hanya dengan menjadi generasi putih abu-abu , k uliah seakan sudah jadi ambisi. Terlebih bagi mereka yang melihat jenjang pendidikan tinggi itu sebagai pengantar bagi tercapainya cita-cita mereka. Tak terkecuali bagi santri. Bahkan motivasi dan hasrat untuk merasakan bagaimana rasanya suasana menuntut ilmu di luar pesantren , bagaikan sebuah energi lain yang membuat mereka tetap bersemangat . Namun demikian, selain kewajiban menuntut ilmu saat kuliah, sebenarnya ada sebuah kewajiban lain bagi santri yang rentan memudar saat mereka menikmati masa-masa kuliah tersebut. Apa itu? Mengabdi. Ya, mengabdi. Kegiatan inilah sesungguhnya yang akan bermanfaat bagi mereka agar kuliah tidak hanya sekedar menjadi aktivitas prestise berisi main-main dan jalan-jalan. Lantas, bagaimana sebenarnya kuliah yang baik bagi para santri itu? Apakah para sa...